Senin, 20 Oktober 2008

ANTISIPASI BENCANA SESEGERA MUNGKIN

Liputan Khusus: ANTISIPASI BENCANA SESEGERA MUNGKIN ; Rasa Was-was Masih Hantui Masyarakat

20/10/2008 09:29:11 Gempa bumi, tanah longsor, banjir, puting beliung bisa muncul kapan saja, di mana saja. Di sejumlah wilayah Jateng, terjangan angin kencang telah memporakporandakan ratusan rumah dan menumbangkan pepohonan. Tahun lalu bencana serupa juga terjadi di DIY. Datangnya angin kencang sebenarnya bisa terdeteksi melalui pantauan satelit. Bahkan, lokasi mana saja yang rawan bencana sudah bisa diperkirakan. Sayangnya, antisipasi selalu datang terlambat. Sudahkah pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi ? BENCANA memang tak bisa diprediksi. Meski demikian, sebelumnya didahului oleh tanda-tanda khusus seperti angin kencang sebelum terjadi angin puting beliung. Namun, bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana, seperti pegunungan atau di dekat sungai, setiap musim hujan tiba selalu timbul rasa was-was. Sebab bencana tanah longsor, angin puting beliung dan banjir, biasanya datang saat musim hujan.
Kabupaten Bantul dengan wilayah yang meliputi pegunungan, pantai serta ada beberapa sungai yang berhilir di laut selatan, memang sangat berpotensi terjadi beberapa jenis bencana. Kondisi demikian mengharuskan masyarakat dan pemerintah selalu meningkatkan kewaspadaan. “Saat angin puting beliung melanda wilayah kami, beberapa bulan pasca gempa bumi juga terjadi pada musim hujan,” kenang Keru, salah seorang pemilik rumah yang sempat mengalami kerusakan akibat angin ribut yang melanda wilayah Pandes dan Jati Wonokromo Pleret Bantul tahun 2006 silam.
Kini ia juga sedikit merasa was-was saat musim hujan tiba. Terutama jika terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Sebab, angin ribut datang didahului adanya angin kencang saat hujan deras.
Hal yang sama juga terjadi ketika angin ribut melanda wilayah Gadingharjo Sanden Bantul, beberapa tahun silam. Meski kerusakan tak begitu parah, namun sempat membuat warga kalang kabut dan diliputi rasa takut. Wilayah yang berdekatan dengan pantai selatan ini sempat diobrak-abrik angin ribut dan menumbangkan ratusan pepohonan. “Karena dusun kami penuh ditumbuhi pohon-pohon besar, maka saat angin ribut datang menimbulkan suara gemuruh yang cukup mengerikan,” kenang Madiyana, warga Gadingharjo.
Sedangkan daerah perbukitan yang banyak dihuni warga di antaranya di wilayah Imogiri, Pleret, Piyungan, Pajangan dan sebagian Pundong. Daerah tersebut memang rawan terjadi bencana tanah longsor terutama pada musim hujan. “Namun karena sifat tanah pegunungan cukup kuat, baik oleh banyak pepohonan maupun bebatuan padas, maka kami tak begitu takut meski tetap harus waspada,” kata Dalijo, warga Selopamioro Imogiri.
Untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor, menurutnya, harus terus dilakukan penghijauan di ereng-ereng pegunungan. Pengerukan tanah pegunungan dan penebangan pohon diharapkan tak dilakukan terutama di daerah yang berdekatan dengan rumah-rumah penduduk.
Langkah Antisipasi
Memasuki musim penghujan, Pemkab Bantul mulai melakukan antisipasi menghadapi bencana yang biasanya muncul, baik tanah longsor, gelombang tinggi, banjir serta angin kencang. Petugas piket disiagakan 24 jam selama 7 hari. Mereka siap menerima laporan masyarakat dan akan langsung terjun ke lapangan bila sewaktu-waktu terjadi bencana.
“Untuk petugas piket disiagakan sebanyak 3 orang di kantor Bupati dan 5 orang di kantor Kesbanglinmas. Potensi Search and Resque (SAR) di Pantai Parangtritis juga sudah siap mengantisipasi gelombang tinggi,” kata Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Bantul, Dwi Daryanto. Pemkab juga sudah mengirimkan surat edaran yang ditandatangani Sekda ditujukan kepada kecamatan. Intinya aparat diminta melakukan antisipasi terhadap bencana yang dimungkinkan muncul.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya tanah longsor berpotensi terjadi di daerah pegunungan seperti Piyungan, Imogiri, Pleret, Dlingo dan sebagian Pajangan. “Di Pajangan ini sebelumnya tidak pernah terjadi longsor, tapi sekarang perlu diwaspadai,” ujarnya. Sedang banjir biasanya dirasakan di daerah Kretek dan Srandakan. Untuk angin puting beliung tahun-tahun sebelumnya terjadi di wilayah Pleret, Sewon dan Bantul kota.
Dikemukakan, berdasarkan info yang disampaikan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), pada musim penghujan kali ini akan terjadi hujan dengan curah deras, tapi hanya sebentar. “Ini yang perlu diwaspadai, karena meski hanya sebentar tapi intensitas hujannya tinggi,” lanjutnya.
Kesbanglinmas, lanjutnya, terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam mengantisipasi bencana. Di antaranya Dinas Kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan di saat terjadi bencana juga Dinas Pengairan dan Pekerjaan Umum (PU) untuk perbaikan sarana dan prasarana. Mengenai anggaran penanganan bencana Dwi Daryanto mengatakan, diambilkan dari dana tak tersangka. Besarnya tidak ditetapkan, tapi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Sedang untuk memberikan pertolongan pertama ketika terjadi bencana, saat ini Kesbanglinmas sudah memiliki stok sembako baik beras, mi instan, minyak goreng, makanan kaleng dll dalam jumlah yang cukup. Termasuk selimut dan daster. Barang-barang ini siap di drop ke lokasi bencana. Kesbanglinmas kini juga tengah mempersiapkan ruang pengendalian operasional. Ruangan ini sudah dilengkapi dengan Ranet (radio internet) yang digunakan untuk memonitor terjadinya bencana di wilayah Bantul khususnya dan di wilayah lain.
Rawan Bencana
Setiap kali ada angin besar, Tugiyono (52) merasa resah teringat musibah angin puting beliung beberapa waktu lalu. Saat itu, kejadiannya sangat singkat sehingga ia tidak bisa menyiapkan langkah darurat. Beruntung keluarganya tidak mengalami luka-luka, hanya atap rumahnya porak-poranda. “Kalau ada angin kencang dan awannya berwarna hitam kami sudah merinding takut terjadi angin ribut,” kata warga Gondokusuman.
Karena hidup di wilayah rawan bencana ia berharap pemerintah lebih tanggap jika terjadi bencana. Di samping penanganan gawat darurat juga sosialisasi terkait tanda-tanda bencana. Diakui ayah 2 anak ini, warga seperti dirinya masih awam terhadap tanda-tanda bencana. “Kalau sudah tahu tanda-tandanya kami kan bisa mengantisipasi agar tidak ada korban,” harapnya.
Menghadapi musim hujan kali ini Pemkot Yogya mewaspadai bahaya banjir dan tanah longsor. Hingga saat ini masih ada sekitar 50 titik talud maupun saluran air yang rusak akibat gempa. Jumlah ini berkurang dari sebelumnya yang mencapai 140 titik.
Data Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta menyebut tahun 2007 kerusakan sudah ditangani sebanyak 70 titik melalui dana rehab rekon. Tahun 2008 kembali diperbaiki sebanyak 20 titik dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) sehingga masih menyisakan 50 titik di sepanjang bantaran Sungai Gajahwong, Code dan Winongo.
“Kondisi talud di kota memang sudah tua. Untuk mengantisipasi jika terjadi luapan kami sudah menyediakan 1.000 bronjong. Pembangunannya silakan gotong royong,” kata Kepala Dinas Kimpraswil, Eko Suryo.
Selain bronjong pihaknya juga menyediakan backhoe untuk melakukan evakuasi jika ada tebing longsor. Pemkot juga sudah membagikan diesel kepada masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai. Alat ini bisa digunakan jika lampu padam.
Selain bahaya banjir dan tanah longsor, Kota Yogya juga rawan bahaya angin ribut dan kebakaran. Terakhir angin puting beliung terjadi pada tahun 2007 yang mengakibatkan 742 rumah rusak di Gondokusuman, 139 rumah rusak di Danurejan, 30 rumah rusak di Umbulharjo dan 25 rumah rusak di Pakualaman. Total rumah rusak sebanyak 1.066 rumah.
Data Pemkot Yogya menyebutkan, akibat musibah itu 57 orang mengalami luka yang dirawat di sejumlah rumah sakit, puskesmas maupun posko kesehatan. Musibah ini cukup mengejutkan karena sebelumnya di wilayah Kota Yogya jarang terjadi angin ribut. Berbeda dengan banjir yang rutin terjadi setiap musim penghujan sehingga cepat tanggap. “Kalau terjadi bencana masyarakat bisa melaporkan ke Satkorlak Kota Yogya di nomor (0274) 587101,” kata Eko Suryo.
Musibah lain yang mengancam Kota Yogya adalah bahaya kebakaran terlebih di sejumlah titik merupakan wilayah padat. Hingga Agustus kemarin Kantor Linmas dan Pemadam Kebakaran mencatat 73 kasus kebakaran di Yogya. Daerah rawan kebakaran berada di wilayah padat penduduk. Sebagian besar kebakaran disebabkan kelalaian manusia. Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran telah disiagakan 30 tandon air di kecamatan. Setiap tandon berkapasitas 30 ribu liter air. Biasanya kebakaran kerap terjadi di musim kemarau.
Sulit Diprediksi
Turunnya hujan yang kadang disertai angin sejak minggu kemarin menyebabkan sejumlah warga Sleman mulai khawatir. Khususnya yang pernah mengalami amukan angin kencang. Ny Anik (35), warga Dusun Bantulan, Desa Sidoarum, Kecamatan Godean, masih ingat kejadian Maret 2008 lalu, ketika di sore hari kampungnya dilanda hujan deras dan angin kencang. “Waktu itu langit tampak begitu gelap dan tiba-tiba angin kencang datang dari utara menuju selatan disertai suara bergemuruh. Angin itu tampak berputar-putar lebih satu menit,” tuturnya.
Ketakutan serupa diungkapkan Ny Paimin (40), juga warga Dusun Bantulan yang saat kejadian sedang membantu di rumah tetangganya yang punya hajatan. Ibu-ibu yang tengah memasak pun langsung berlarian ke dalam rumah. Sejumlah barang dagangannya berupa bahan-bahan material beterbangan saat angin menerjang.
Agustus 2008 lalu, angin puting beliung mendadak mengamuk di siang bolong, menerjang rumah Mastowo (70) di Jalan Leli 3 No 222 RT 12 RW 17 Perumnas Condongcatur, Kecamatan Depok. “Saya merasakan atap rumah bergetar, lalu saya berlari ke arah dapur. Ternyata yang dihantam angin adalah bagian depan rumah saya,” tutur Mastowo.
Kekhawatiran juga dirasakan Ny Wati, warga Dusun Duwet, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati. Sebab hujan dan angin kencang pernah memporakporandakan kampungnya pada awal tahun lalu. Menurutnya, begitu kuatnya angin kencang itu sehingga meskipun berlangsung singkat, sebuah tower setinggi kurang lebih 40 meter milik Radio Satunama di RW 34 ambruk. Sebagian badan tower itu menimpa bangunan belakang radio tersebut.
Sebagian warga kini mengantisipasi datangnya hujan yang disertai angin kencang itu dengan memangkasi pohon-pohon yang tumbuhnya membahayakan bangunan rumah.
Menurut Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Alam Dinas Pengairan, Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3BA) Kabupaten Sleman, Singgih Sudibyo SH, Kabupaten Sleman secara geografis memang memiliki beberapa wilayah rawan bencana alam. Mulai dari letusan Gunung Merapi, banjir lahar dingin, tanah longsor, kekeringan dan angin puting beliung.
Daerah yang rawan ancaman Gunung Merapi, adalah wilayah Cangkringan, Pakem dan Turi. Baik itu bahaya letusan dan awan panas (wedus gembel) maupun banjir lahar dingin. Sedangkan daerah Prambanan yang memiliki kawasan pegunungan, selain rawan kekeringan juga rawan tanah longsor. “Sementara untuk angin puting beliung mengancam daerah datar seperti Godean, Seyegan, Mlati, Depok, Ngaglik dan Berbah,” paparnya.
Khusus untuk ancaman angin kencang atau puting beliung, Singgih mengakui sulit diprediksi. Tapi tanda-tanda awal dapat diketahui, seperti melalui pergerakan awan dan perubahan suhu yang mendadak. “Dengan mempelajari gejala-gejala tersebut diharapkan dapat dilakukan antisipasi. Masyarakat juga lebih siap sehingga tidak sampai menimbulkan korban dan kerusakan parah,” katanya.
Singgih menambahkan, Pemkab Sleman mengalokasikan anggaran senilai Rp 1,3 miliar untuk kegiatan penanggulangan bencana alam yang setiap saat bisa dicairkan. “Khusus penanganan terhadap ancaman Gunung Merapi sudah ada aturan tersendiri, sehingga untuk penanganan harus menyeluruh,” jelasnya. Selain itu pihaknya juga telah mengadakan pelatihan siaga bencana di sejumlah kecamatan, bekerjasama dengan instansi terkait.Sumber Kedaulatan Rakyat

Tidak ada komentar: